England Harus 'Old School' di Ashes Kedua, Kata Michael Vaughan

England Harus ‘Old School’ di Ashes Kedua, Kata Michael Vaughan

England menghadapi tekanan besar menjelang Tes Ashes kedua melawan Australia di Brisbane. Mantan kapten Michael Vaughan menekankan pentingnya pendekatan “old school” bagi para pemukul Inggris, terutama setelah kekalahan mengejutkan dua hari di Perth.

Australia saat ini unggul 1-0 dalam seri setelah Inggris gagal mengontrol permainan, di mana pilihan pukulan para pemain Inggris menuai kritik tajam. Kini, mereka akan menghadapi Tes siang-malam dengan bola pink, di stadion yang terkenal dengan kondisi ekstrem bagi para pemukul dan pemain cepat.

Pendekatan ‘Old School’ untuk Pemukul Inggris

Vaughan menyoroti arogansi dalam pendekatan Inggris di Perth. Ia menilai para pemain terlalu berani dan sering mengambil risiko berlebihan. “England side dance down. Mereka lari menuju bahaya,” katanya. Vaughan menyarankan agar para pemukul lebih mengontrol permainan dan bermain dengan kesadaran lebih tinggi saat bola bergerak cepat.

“Saya tidak mengatakan mereka harus bermain seperti Geoff Boycott atau Alastair Cook setiap saat, tapi gunakan akal sehat saat bola bergerak cepat,” tambah Vaughan.

Menurutnya, Inggris harus belajar mengendalikan serangan lawan, terutama dari Mitchell Starc, yang memiliki rata-rata 17,09 dan telah mencetak 81 wicket di Tes siang-malam. Starc dikenal sebagai salah satu pemain bowler terbaik dengan bola pink.

Pemain Bowler InggrisPanjang Rata-rata (m)
Matthew Potts7.25
Jofra Archer7.59
Gus Atkinson7.85
Brydon Carse7.93
Ben Stokes8.02
Josh Tongue8.23
Mark Wood8.65

Tabel di atas menunjukkan panjang rata-rata delivery para bowler Inggris selama lima tahun terakhir. Data ini penting karena di Gabba, panjang bola antara 8-10 meter dianggap paling efektif secara global.

Strategi Melawan Mitchell Starc

Vaughan menekankan pentingnya frustrasi terhadap Starc dengan pendekatan yang lebih hati-hati. Ia menyarankan Inggris untuk menghindari pukulan berisiko dan fokus menahan laju bola, terutama di sisi off stump.

“Saat Starc menyerang, ia harus mengambil wicket. Jadi jika Anda meninggalkan beberapa bola di luar off stump, ia pasti akan menargetkan,” kata Vaughan.

Kesadaran taktis dan pengelolaan risiko menjadi kunci agar Inggris tidak kembali runtuh seperti di Perth. Vaughan percaya bahwa Inggris membutuhkan performa lebih solid dalam jangka panjang, bukan sekadar hiburan bagi penonton.

Apakah Inggris Harus Gunakan Spinner?

Vaughan menilai kondisi di Brisbane kurang cocok bagi spinner Inggris saat ini. Dengan Mark Wood absen karena cedera, beberapa opsi muncul seperti Shoaib Bashir atau Will Jacks. Namun, Vaughan lebih condong menggunakan semua pemain cepat, karena mereka memiliki peluang lebih besar untuk mengambil 20 wicket.

“Saya tidak akan memainkan spinner. Inggris tidak memiliki spinner cukup kuat untuk kondisi ini. Josh Tongue adalah wicket taker sejati, dia harus masuk tim,” katanya.

Selain itu, Vaughan menyarankan Ben Stokes untuk segera turun sebagai bowler di awal, karena kemampuannya bisa mengubah arah pertandingan. Stokes, menurut Vaughan, harus memanfaatkan momentum dan memberikan tekanan sejak awal.

Tantangan Panas di Gabba

Selain kualitas lawan, kondisi cuaca di Brisbane menjadi tantangan lain. Vaughan menyoroti ketahanan fisik bowler Inggris, yang harus siap menghadapi panas dan kelembapan. Strategi penggunaan semua bowler cepat akan mengurangi risiko kelelahan dan memaksimalkan peluang mengambil wicket.

“Jika mereka bowling dengan baik, 20 wicket bisa tercapai. Semua bergantung pada kekuatan seam attack,” ujarnya.

Vaughan menekankan bahwa kombinasi strategi lama dan baru sangat dibutuhkan. Inggris harus tetap menghibur, tapi juga fokus pada hasil kemenangan.

Kesimpulan

Michael Vaughan menekankan bahwa Inggris perlu mengubah pola pikir dari sekadar agresif menjadi lebih hati-hati dan cerdas. Pendekatan “old school” bukan berarti bermain lambat, tetapi lebih menekankan kesadaran permainan, kontrol risiko, dan strategi melawan bowler terbaik Australia.

Dengan kombinasi pemukul yang lebih bijak, bowler cepat yang siap, dan Stokes mengambil peran lebih aktif, Inggris memiliki peluang untuk menyeimbangkan seri. Namun, keberhasilan tetap bergantung pada disiplin, kesabaran, dan strategi yang tepat di lapangan.